Nilai Ekspor CPO Tembus US$4,69 Miliar, Dorong Surplus Neraca Perdagangan

Pelabuhan eksklusif ini sibuk dengan aktivitas ekspor CPO, mendukung peningkatan angka ekspor sawit Indonesia.
Nilai ekspor CPO Indonesia mencapai US$4,69 miliar di awal 2026, meningkatkan surplus neraca perdagangan Indonesia yang sudah 70 bulan berturut-turut positif.
(2026/04/01) Indonesia mencatatkan nilai ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya mencapai US$4,69 miliar pada periode Januari-Februari 2026, meningkat 26,40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini berkontribusi signifikan terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia yang tercatat selama 70 bulan berturut-turut.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, menyatakan bahwa kinerja ekspor CPO dan produk turunannya menunjukkan tren positif di awal tahun ini. Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan permintaan global yang terus meningkat, tetapi juga menunjukkan daya saing industri sawit Indonesia di pasar internasional.
Pada Februari 2026, total nilai ekspor Indonesia mencapai US$22,17 miliar, didorong oleh sektor non-migas, termasuk sawit dan nikel. Surplus neraca perdagangan pada bulan tersebut tercatat sebesar US$1,27 miliar, meningkat dibandingkan surplus Januari yang sebesar US$960 juta. Hal ini mencerminkan stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global yang ada.
- Pertumbuhan Kinerja Ekspor dan Produksi Kelapa Sawit Indonesia di Awal 2026 (2 Maret 2026)
- Impor Minyak Sawit India Turun 19% di Tengah Lonjakan Harga Global (2 April 2026)
- Penurunan Harga Minyak Sawit Dorong Lonjakan Impor dari India (23 Februari 2026)
- Neraca Perdagangan Indonesia Maret 2025: Surplus Berlanjut dengan Tren Positif (23 Februari 2026)
Data BPS menunjukkan bahwa kontribusi CPO terhadap pendapatan negara sangat signifikan. Dengan nilai ekspor yang melesat, sektor sawit tidak hanya berperan dalam perekonomian nasional, tetapi juga dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Potensi ini tentu menjadi peluang bagi pengembangan industri hilir sawit di masa depan.
Melihat tren ini, proyeksi untuk sektor sawit Indonesia tetap optimis. Dengan adanya peningkatan permintaan dari pasar global, terutama dari negara-negara tujuan utama seperti India dan Tiongkok, ekspor CPO diperkirakan akan terus tumbuh. Hal ini dapat memperkuat perekonomian nasional serta mendukung keberlanjutan industri sawit yang lebih baik.
“Kinerja positif ini adalah hasil kerja keras semua pihak dalam industri sawit dan dukungan dari pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif,” ungkap Ateng Hartono. Hal ini menunjukkan bahwa industri sawit Indonesia memiliki kapasitas untuk beradaptasi dan berkembang di pasar global yang kompetitif.
Sumber: