BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Berita Harian

Masyarakat Riau Diguncang Pembunuhan Mandor Sawit oleh Keluarga Sendiri

23 Februari 2026|Pembunuhan Mandor Sawit Riau
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Masyarakat Riau Diguncang Pembunuhan Mandor Sawit oleh Keluarga Sendiri

Harga TBS kelapa sawit di Indonesia mengalami penurunan, terlihat dari buah sawit yang menumpuk rendah kualitas.

Kasus pembunuhan mandor kebun sawit di Rokan Hilir, Riau, yang dilakukan oleh satu keluarga, menarik perhatian publik dan menimbulkan kepanikan di kalangan pekerja migran.

Kasus pembunuhan mandor kebun sawit yang mengguncang Rokan Hilir, Riau, terjadi pada bulan Juni 2025, mengungkap sisi kelam dari industri yang selama ini dianggap sebagai sumber mata pencaharian. Pembunuhan ini dilakukan oleh seorang ayah, anak, dan adik dari keluarga yang sama, yang terlibat dalam sebuah pertikaian yang berujung pada tindakan tragis.

Pelaku utama, AR alias Raju (41), bersama anaknya AS alias Rafi (19) dan adik mereka yang masih di bawah umur, ditangkap kurang dari 24 jam setelah kejadian. Pembunuhan ini terjadi setelah Raju merasa tersudut karena dituduh mencuri buah sawit oleh mandor, Mula Pandiangan (49). Dalam sebuah cekcok, Raju dan anaknya tidak terima dengan tuduhan tersebut dan melakukan tindakan nekat yang berakhir dengan kematian mandor mereka.

Jasad Mula Pandiangan ditemukan dalam keadaan mengenaskan, dibungkus karung dan dibuang ke dalam parit. Pihak kepolisian berhasil menangkap para pelaku berkat penyelidikan yang cepat, di mana Kapolres Rokan Hilir, AKBP Isa Imam Syahroni, menyatakan, "Tiga tersangkanya berhasil kita amankan dalam kurun waktu tidak lebih dari 24 jam." Penangkapan ini mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan di kalangan pekerja sawit bisa muncul akibat tekanan dan konflik interpersonal yang tidak diatasi dengan baik.

Di sisi lain, berita lain yang turut mengganggu ketenteraman masyarakat terkait industri ini adalah kisah Jayanti, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru saja dideportasi dari Malaysia. Setelah enam bulan menjalani masa tahanan karena tidak memiliki dokumen resmi, Jayanti melahirkan di penjara. Ia menceritakan pengalamannya saat melahirkan, yang meskipun terjadi dalam situasi sulit, namun pelayanan di rumah sakit cukup memuaskan. "Di hospital juga (melahirkan). Bagus juga lahirannya. Baru dikirim ke sini (Parepare)," ungkapnya dengan nada lega.

Pengalaman Jayanti menggambarkan tantangan yang dihadapi pekerja migran, khususnya dalam upaya mereka untuk mencari nafkah di luar negeri. Banyak PMI yang terjebak dalam situasi hukum yang rumit, dan dalam kasus Jayanti, ia harus menghadapi konsekuensi berat karena kehilangan dokumen resmi. Dengan kembali ke Parepare, Jayanti kini berusaha membangun kembali hidupnya bersama anaknya yang baru lahir.

Kedua kisah ini, meskipun berbeda, mencerminkan tantangan serius yang dihadapi oleh masyarakat di sektor kelapa sawit dan pekerja migran di Indonesia. Ketidakadilan sosial, kekerasan, dan krisis identitas menjadi isu yang perlu diperhatikan lebih dalam oleh pemerintah dan masyarakat luas untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Sumber:

  • Bapak, Anak, dan Adik Bunuh Mandor Sawit karena Sakit Hati Dituduh Maling โ€” Kompas (2025-06-05)
  • Kronologi Pembunuhan Mandor di Riau, Pelaku Tertangkap Tak Sampai 24 Jam โ€” Detik (2025-06-05)
  • Sekeluarga Bunuh Mandor Sawit, Terungkap dari Pembelian Kartu SIM Perdana โ€” Kompas (2025-06-05)
  • PMI di Parepare Sempat Melahirkan Saat Jalani Masa Tahanan Sebelum Dideportasi โ€” Detik (2025-06-05)