BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Kenaikan Harga CPO Memengaruhi Pasar Pangan dan Ekspor Sawit

22 Februari 2026|Kenaikan Harga CPO
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Kenaikan Harga CPO Memengaruhi Pasar Pangan dan Ekspor Sawit

Gambar menunjukkan minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang dihasilkan dari buah kelapa sawit segar di Indonesia.

Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami kenaikan di awal tahun 2025, berimbas pada pasar pangan dan kinerja ekspor sawit Indonesia dan Malaysia.

Di tengah fluktuasi harga pangan, industri kelapa sawit Indonesia mencatat kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) yang signifikan. Pada tanggal 21 Januari 2025, harga CPO di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom terpantau naik sebesar 0,66%, mencapai Rp 13.816 per kilogram. Kenaikan ini menunjukkan adanya tren positif setelah harga CPO sebelumnya tercatat Rp 13.725 per kilogram pada tanggal 20 Januari 2025. Informasi dari KPBN mengungkapkan bahwa harga CPO di beberapa lokasi seperti Franco Belawan dan Dumai juga ditetapkan pada angka yang sama, menunjukkan konsistensi di pasar.

Selain itu, pertumbuhan harga CPO juga didukung oleh penguatan pasar global, dengan harga kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia yang terus mengalami kenaikan. Meskipun demikian, faktor penurunan ekspor menjadi salah satu tantangan yang membatasi pertumbuhan harga, mengingat ketidakpastian pasar global dan dinamika permintaan yang berfluktuasi.

Dalam konteks ini, harga pangan di Indonesia juga mengalami perubahan yang signifikan. Memasuki awal tahun 2025, sejumlah bahan kebutuhan pokok, termasuk minyak goreng, mengalami kenaikan harga. Menurut pantauan di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, harga minyak goreng terpantau kian mahal, mengikuti tren kenaikan harga CPO. Hal ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, di mana harga telur ayam, gula, dan beras juga mengalami fluktuasi.

Seorang pedagang di pasar menyatakan bahwa harga telur ayam yang sebelumnya sempat melonjak hingga Rp 34.000 per kilogram kini mulai menurun menjadi Rp 30.000 per kilogram. Namun, penurunan harga tersebut terjadi secara bertahap, yang menunjukkan adanya dinamika dalam permintaan dan penawaran di pasar. Hal ini mencerminkan bagaimana harga CPO yang meningkat dapat memengaruhi harga pangan domestik, menciptakan dampak yang saling terkait antara kedua sektor tersebut.

Di sisi lain, kinerja ekspor sawit Malaysia menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2024. Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, nilai ekspor sawit dan produk turunannya mengalami kenaikan signifikan mencapai RM109,3 miliar (setara dengan US$24 miliar), meningkat sebesar 15,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Volume ekspor juga mencatatkan pertumbuhan, dari 24,49 juta ton menjadi 26,66 juta ton, berkat kenaikan harga CPO yang menguntungkan industri sawit negara jiran.

Kenaikan ini tidak hanya mencerminkan pertumbuhan yang kuat dalam industri sawit Malaysia, tetapi juga menyoroti ketatnya persaingan di pasar global, di mana Indonesia dan Malaysia sebagai dua produsen utama harus saling bersaing untuk mempertahankan pangsa pasar. Dalam konteks ini, kinerja harga CPO dan kondisi pasar pangan domestik yang saling terkait menjadi isu penting yang perlu diperhatikan oleh para pelaku industri dan pemerintah.

Secara keseluruhan, dinamika harga CPO yang mengalami kenaikan di Indonesia dan Malaysia menunjukkan adanya interdependensi yang kuat antara sektor kelapa sawit dan pasar pangan. Kenaikan harga CPO berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, sementara pertumbuhan ekspor sawit Malaysia dapat menjadi indikator penting bagi pelaku industri sawit Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

Sumber:

  • Harga CPO KPBN Inacom Naik 0,66 Persen Pada Selasa (21 per 1), Harga CPO di Bursa Malaysia Tetap Naik โ€” Info Sawit (2025-01-21)
  • Harga Pangan dan Minyak Goreng Kian Mahal โ€” Sawit Indonesia (2025-01-21)
  • 2024, Ekspor Sawit Malaysia Tumbuh 15,1% Menjadi US$24,5 Miliar โ€” Sawit Indonesia (2025-01-21)