Inovasi Pertanian: Perkebunan Sawit di Kalimantan Selatan Terapkan Intercopping Padi Gogo

Petani sedang memanen tandan buah segar (TBS) sawit di perkebunan kelapa sawit Indonesia.
Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Selatan mulai menerapkan intercopping padi gogo, sebuah langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, laju peremajaan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia masih menghadapi tantangan.
Dalam langkah inovatif untuk mendukung ketahanan pangan nasional, perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mulai menerapkan program intercopping atau tumpang sari dengan padi gogo. Kegiatan ini dilaksanakan pada 26 Desember 2024, sebagai bagian dari kolaborasi antara Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, serta Pemerintah Kabupaten Tanah Laut.
Kegiatan ini dihadiri oleh Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, yang menekankan pentingnya pengembangan padi lahan kering, termasuk di lahan perkebunan kelapa sawit. Penerapan intercopping diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendukung program swasembada pangan yang tengah digalakkan pemerintah.
Intercopping padi gogo diharapkan tidak hanya memberikan hasil pertanian yang lebih beragam, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani sawit. Dengan memanfaatkan lahan yang ada, petani dapat memperoleh dua jenis hasil dari satu area, yaitu kelapa sawit dan padi, yang diharapkan dapat memperbaiki ketahanan pangan lokal.
- Kondisi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia: Tantangan dan Peluang Maret 2026 (30 Maret 2026)
- PTPN IV PalmCo Realisasikan 2.287 Ha Peremajaan Sawit Rakyat di 2026 (3 April 2026)
- Laba PTPN IV PalmCo Tumbuh 65% Berkat Modernisasi dan Digitalisasi (29 Maret 2026)
- Harga TBS Kelapa Sawit Riau Naik, Kotawaringin Timur Siap PSR 2026 (30 Maret 2026)
Tetapi, dalam konteks yang lebih luas, industri kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia menghadapi tantangan serius terkait peremajaan tanaman. Pada tahun 2023, laju peremajaan perkebunan kelapa sawit menunjukkan kemajuan yang lambat di kedua negara, jauh dari target pemerintah. Malaysia, misalnya, hanya berhasil meremajakan 132.000 hektare dari total area perkebunan, yang setara dengan 2,3% dari target tahunan sebesar 4% atau 228.000 hektare. Meskipun ada peningkatan dari tahun sebelumnya, angka tersebut masih sangat jauh dari harapan.
Sementara itu, Indonesia menetapkan target ambisius untuk meremajakan 2,5 juta hektare pohon sawit hingga tahun 2025. Namun, realisasi program peremajaan sawit (PSR) hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini menjadi perhatian, mengingat sekitar 450.000 hektare pohon sawit di kedua negara berusia lebih dari 25 tahun, yang sudah seharusnya diperemajakan untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan industri.
Dalam menghadapi situasi ini, pemerintah dan pelaku industri perlu berkolaborasi lebih erat untuk mengatasi tantangan yang ada, baik dalam hal inovasi pertanian seperti intercopping, maupun dalam mempercepat proses peremajaan tanaman. Sinergi antara berbagai pihak akan sangat penting untuk mencapai target-target yang telah ditetapkan dan memastikan keberlanjutan sektor pertanian, khususnya kelapa sawit, sebagai salah satu komoditas utama di Indonesia dan Malaysia.
Sumber:
- Perkebunan Sawit di Jorong Mulai Terapkan Intercopping Padi Gogo โ Media Perkebunan (2024-12-29)
- Perkebunan Sawit Kalsel Mulai Ditanami Padi Gogo: Langkah Besar Menuju Swasembada Pangan โ Agrofarm (2024-12-29)
- Laju Peremajaan Kelapa Sawit di Malaysia dan Indonesia Masih di Bawah Target โ Info Sawit (2024-12-29)