Indonesia dan Malaysia Bersama FAO Susun Standar Keberlanjutan Minyak Sawit

Prabowo memberikan pidato terkait industri kelapa sawit Indonesia menjelang pemilu 2026, menekankan pentingnya keberlanjutan sawit.
Pemerintah Indonesia dan Malaysia berkolaborasi dengan FAO untuk menyusun standar keberlanjutan global minyak sawit, dalam upaya menghadapi tantangan lingkungan dan sosial.
Pemerintah Indonesia dan Malaysia menjalin kerjasama dengan Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO) untuk menyusun standar keberlanjutan global bagi industri minyak sawit. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi sektor kelapa sawit, terutama terkait isu lingkungan dan sosial.
Dalam konferensi internasional yang diadakan di Medan pada 19 Februari 2025, Wakil Menteri Luar Negeri RI Arief Havas Oegroseno menyampaikan pentingnya kolaborasi ini. Ia menegaskan bahwa Indonesia dan Malaysia, sebagai dua negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, memiliki tanggung jawab untuk menetapkan standar yang dapat diakui secara global. “Kita telah berdiskusi dengan FAO untuk melakukan studi dalam rangka menyusun suatu standar sustainability untuk palm oil dan coconut oil,” ujar Havas.
Standar keberlanjutan ini diharapkan dapat menjadi jawaban atas berbagai tuntutan dari negara-negara konsumen yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan produk yang mereka konsumsi. Penetapan standar yang jelas akan membantu meningkatkan transparansi dalam rantai pasok minyak sawit dan memberikan jaminan bahwa produk yang dihasilkan memenuhi kriteria lingkungan yang ketat.
- Kejagung Geledah Ombudsman Terkait Kasus Perintangan Penyidikan CPO (9 Maret 2026)
- Standar Baru Sawit Ramah Anak: Perlindungan Generasi Muda di Perkebunan (25 Maret 2026)
- Skandal Suap Terkait Ekspor CPO: Vonis Ringan dan Panggilan untuk Penuntasan Kasus Korporasi (4 Maret 2026)
- Kementerian Pertanian Perkuat ISPO untuk Keberlanjutan dan Daya Saing Sawit Indonesia (5 Maret 2026)
Kerjasama ini juga bertujuan untuk mendukung perbaikan citra industri kelapa sawit yang selama ini seringkali dikritik karena dampaknya terhadap deforestasi dan perubahan iklim. Dengan adanya standar keberlanjutan, diharapkan akan ada upaya yang lebih terkoordinasi untuk menjaga hutan dan keanekaragaman hayati sambil tetap mendukung perekonomian masyarakat sekitar yang bergantung pada industri ini.
Keberlanjutan menjadi isu penting yang tidak bisa diabaikan, mengingat industri kelapa sawit menyuplai pendapatan bagi jutaan orang di Indonesia dan Malaysia. Oleh karena itu, kolaborasi antara kedua negara produsen ini dengan FAO menunjukkan keseriusan dalam menghadapi tantangan global dan berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Dengan langkah ini, Indonesia dan Malaysia tidak hanya berupaya memenuhi standar yang ditetapkan oleh Uni Eropa, tetapi juga bertekad untuk menjadi pelopor dalam praktik keberlanjutan di sektor minyak sawit secara global. Ini merupakan langkah positif yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam jangka panjang.
Sumber:
- Indonesia dan Malaysia Bersama FAO Susun Standar Keberlanjutan Minyak Sawit — Hortus (2025-02-19)