Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Ahok Usulkan Skema Bagi Hasil untuk Petani

Seorang petani melakukan intercropping padi gogo di kebun kelapa sawit, memaksimalkan lahan dan meningkatkan produktivitas pertanian.
Harga TBS sawit di Kalimantan Timur meningkat, sementara Ahok mengusulkan skema bagi hasil untuk meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit di desa.
(2026/03/15) Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Kalimantan Timur meningkat sebesar Rp 13,9 per kilogram pada periode I-Maret 2026. Sementara itu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengusulkan skema bagi hasil produksi untuk petani kelapa sawit guna meningkatkan transparansi dan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa.
Kenaikan harga TBS sawit di Kalimantan Timur, yang kini mencapai Rp 3.266,40 per kilogram untuk sawit berumur lebih dari 10 tahun, menandakan adanya perbaikan dalam harga jual komoditas ini. Data dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan bahwa harga sawit untuk berbagai umur juga mengalami peningkatan, dengan sawit berumur 3 tahun tercatat seharga Rp 2.875,21 per kilogram. Kenaikan harga ini menjadi angin segar bagi para petani lokal yang bergantung pada komoditas ini sebagai sumber pendapatan utama mereka.
Sementara itu, di tengah perbaikan harga, Ahok mengusulkan transformasi dalam tata kelola perkebunan kelapa sawit. Dalam diskusi yang berlangsung baru-baru ini, ia menekankan perlunya peralihan dari skema bagi keuntungan menjadi skema bagi hasil produksi untuk mencegah potensi manipulasi data akuntansi. Ahok percaya bahwa model kemitraan yang ada saat ini cenderung merugikan petani karena kurangnya transparansi dalam laporan keuangan.
- Harga TBS Sawit Sumut Meningkat Menjadi Rp 4.065,95 per Kg pada April 2026 (3 April 2026)
- Pelepasan Kumbang Penyerbuk Diprediksi Tingkatkan Produktivitas Sawit 15% (23 Maret 2026)
- Kebun Sawit Kotim Hadapi Risiko Kekeringan dan Tantangan Pupuk 2026 (27 Maret 2026)
- Harga TBS Sawit di Gorontalo Naik, Sementara Sumut Alami Penurunan (26 Maret 2026)
Pentingnya dukungan terhadap petani juga diungkapkan melalui kisah Risniati Tarigan, seorang perempuan yang berhasil mengelola usaha perdagangan TBS kelapa sawit di Subulussalam, Aceh. Dalam perannya sebagai pemimpin kelompok dan pedagang, Risniati menunjukkan bahwa perempuan dapat berperan aktif dalam industri yang didominasi laki-laki. Melalui CV Perangin-Angin Group, ia bekerja sama dengan hampir 300 pekebun swadaya untuk meningkatkan kesejahteraan komunitasnya.
Analisis mengenai perubahan tata guna lahan di Indonesia antara tahun 1990 hingga 2018 menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan kelapa sawit banyak dilakukan di lahan terdegradasi, dengan 61,6 persen berasal dari konversi lahan non-hutan. Hal ini menekankan pentingnya pengelolaan lahan yang berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan industri sawit tanpa merusak lingkungan. Penelitian ini memberikan panduan bagi kebijakan yang lebih berkelanjutan dalam pengembangan sektor kelapa sawit di masa depan.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa dengan adanya peningkatan harga TBS dan skema bagi hasil yang diusulkan oleh Ahok, kesejahteraan petani kelapa sawit di desa-desa dapat meningkat. Namun, keberhasilan ini sangat bergantung pada implementasi kebijakan yang transparan dan berkeadilan serta dukungan kepada petani lokal.
Kenaikan harga TBS sawit dan inisiatif untuk meningkatkan tata kelola perkebunan adalah langkah penting menuju keberlanjutan industri sawit di Indonesia. Dengan dukungan yang tepat, sektor ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan.
Sumber:
- Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Maret 2026 Naik Rp 13,9 per Kg โ Info Sawit (2026-03-15)
- Bukan Bagi Untung, Ahok Usul Skema Bagi Hasil Produksi Sawit untuk Rakyat Desa โ HaiSawit (2026-03-15)
- Mengenal Risniati: Dari Rumah Menuju Sertifikasi Sawit Berkelanjutan โ Sawit Indonesia (2026-03-15)
- Analisis Komposisi Perubahan Tata Guna Lahan Perkebunan Sawit Indonesia Periode 1990-2018 โ HaiSawit (2026-03-15)