BeritaSawit.id
πŸ“Š Memuat data pasar...
Tenaga Kerja

GAPKI Dukung Praktik Kerja Adil dan Hilirisasi untuk Industri Sawit

23 April 2026|Praktik Kerja yang Adil
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
GAPKI Dukung Praktik Kerja Adil dan Hilirisasi untuk Industri Sawit

Logo GAPKI, organisasi pengusaha kelapa sawit Indonesia, memperkuat komitmen industri dalam keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya.

GAPKI dorong praktik kerja yang adil dan hilirisasi untuk memperkuat kontribusi industri sawit dalam PDB, serta perhatikan kesejahteraan pekerja.

(2026/04/23) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) berkomitmen untuk memperkuat perlindungan pekerja dalam sektor perkebunan sambil meningkatkan hilirisasi industri sawit. Hal ini penting untuk memastikan bahwa industri sawit tidak hanya berkontribusi pada perekonomian, tetapi juga menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Ketua Bidang SDM GAPKI, Sumarjono Saragih, menegaskan pentingnya praktik kerja yang adil dan inklusif. Menurutnya, perlindungan pekerja adalah amanat konstitusi yang harus dijalankan oleh seluruh pelaku usaha. Ia menyatakan, "Perlindungan pekerja itu sudah menjadi amanat konstitusi dan regulasi turunannya. Bahkan ada aspek yang menjadi hak dasar atau fundamental rights di tempat kerja." Dengan demikian, non-diskriminasi menjadi salah satu prinsip utama dalam pelaksanaan kebijakan ini.

Sementara itu, hilirisasi industri kelapa sawit domestik menunjukkan dampak yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Nilai output total dari industri ini meningkat dari Rp54 triliun pada tahun 2000 menjadi Rp1.119 triliun pada 2021. Data tersebut menggambarkan bagaimana kebijakan pengolahan produk mentah menjadi barang jadi di dalam negeri mampu memberikan kontribusi ekonomi yang nyata.

Dalam konteks ini, Sumarjono Saragih juga mengingatkan bahwa sektor sawit tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga kesejahteraan manusia. Dalam forum internasional, ia menekankan bahwa "sawit bukan hanya soal hutan, tapi juga manusia." Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan pekerja dan petani harus menjadi perhatian utama dalam pengembangan industri sawit.

Dari sisi teknologi, sistem online IAS-PAT L1M diperkenalkan untuk memantau kualitas minyak sawit secara real-time. Sistem ini dirancang untuk memastikan optimasi proses, konsistensi produk, dan efisiensi produksi. Dengan adanya sistem ini, industri sawit diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk dan memenuhi standar yang ditetapkan, sekaligus mendukung hilirisasi.

Ke depan, industri kelapa sawit Indonesia diharapkan mampu beradaptasi dengan tantangan global, termasuk dalam aspek keberlanjutan dan kesejahteraan pekerja. Dengan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan dan penerapan teknologi yang tepat, sektor ini memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan berkontribusi pada perekonomian nasional. "Kesejahteraan pekerja harus menjadi bagian integral dari setiap kebijakan yang dikeluarkan," kata Sumarjono.

Sumber: