Apay Janggut Raih Penghargaan Internasional untuk Pelestarian Lingkungan

Gambar ini menunjukkan kebun sawit yang luas di Indonesia, terlihat dari sudut pandang udara.
Bandi atau Apay Janggut, tokoh pelestarian hutan dari Kalimantan Barat, baru-baru ini menerima penghargaan internasional atas dedikasinya dalam menjaga ekosistem.
Bandi atau yang lebih dikenal dengan nama Apay Janggut, seorang aktivis lingkungan dan tuai rumah panjai Dayak Iban dari Sungai Utik, telah meraih penghargaan Gulbenkian Prize for Humanity yang keempat. Penghargaan bergengsi ini diberikan oleh Yayasan Calouste Gulbenkian di Lisabon, Portugal, pada tanggal 19 Juli 2023. Apay Janggut terpilih dari 143 nominasi yang berasal dari 55 negara, bersama dengan dua penerima lainnya, Cécile Bibiane Ndjebet dari Kamerun dan Lélia Wanick Salgado dari Brasil.
Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas dedikasi mereka dalam menjaga dan memulihkan ekosistem yang penting untuk keseimbangan ekologis dunia dan mitigasi dampak perubahan iklim. Apay Janggut dikenal luas di kalangan masyarakat dan organisasi lingkungan sebagai penjaga kawasan hutan Sungai Utik di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Selama puluhan tahun, dia telah berjuang untuk melindungi hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di sekitarnya, serta memberdayakan masyarakat lokal dalam upaya pelestarian lingkungan.
Apay tidak hanya mendapatkan penghargaan Gulbenkian, tetapi juga telah menerima penghargaan Kalpataru dan Equator Prize yang diselenggarakan oleh UNDP. Penghargaan-penghargaan ini membuktikan kontribusinya yang signifikan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat dan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Melalui upaya yang konsisten, dia telah berhasil menginspirasi banyak orang untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan pentingnya keberlanjutan ekosistem.
- Kesadaran Lingkungan Meningkat di Kalangan Konsumen Minyak Sawit di Tengah Ancaman Satwa Liar (22 Februari 2026)
- Langkah Progresif untuk Konservasi Lingkungan di Indonesia (23 Februari 2026)
- Dugaan Korupsi dan Restorasi Lingkungan di Taman Nasional Tesso Nilo (23 Februari 2026)
- Inisiatif Penelitian dan Tantangan Lingkungan di Indonesia: Dari Papua hingga Riau (23 Februari 2026)
Keberhasilan Apay Janggut dalam menerima penghargaan internasional ini tidak hanya membawa kebanggaan bagi masyarakat Dayak Iban, tetapi juga menyoroti pentingnya peran masyarakat adat dalam pelestarian lingkungan. Dalam konteks global yang semakin memprihatinkan akibat perubahan iklim, penghargaan ini juga bisa menjadi dorongan bagi banyak individu dan komunitas untuk mengambil tindakan nyata dalam menjaga dan melestarikan lingkungan di daerah mereka masing-masing.
Penghargaan Gulbenkian Prize for Humanity menjadi salah satu dari sekian banyak pengakuan yang semakin menegaskan pentingnya upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh individu-individu seperti Apay Janggut. Dalam situasi di mana hutan dan ekosistem di seluruh dunia semakin terancam, cerita sukses seperti yang dialami Apay memberikan harapan dan inspirasi untuk melanjutkan perjuangan dalam menjaga planet kita.
Sumber:
- Apay Janggut Terima Penghargaan Gulbenkian Prize for Humanity Portugal — Mongabay (2023-07-24)