Aksi Warga dan Inisiatif Perusahaan untuk Lingkungan yang Lebih Baik

Pabrik kelapa sawit ini menghasilkan limbah POME yang mencemari lahan, menunjukkan dampak negatif industri terhadap lingkungan.
Warga Desa Tanjung Kuyo menuntut perbaikan infrastruktur yang terabaikan, sementara perusahaan berusaha mengurangi emisi gas rumah kaca melalui inisiatif global.
Desakan warga Desa Tanjung Kuyo, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelalawan, terhadap PT Sari Lembah Subur (SLS) mencuat baru-baru ini. Puluhan pemuda dan warga melakukan aksi unjuk rasa pada Senin (17/3/2025), menuntut perbaikan jalan dan sungai yang selama ini terbengkalai akibat aktivitas perusahaan. Dalam orasinya, salah satu perwakilan warga, Endri Lafran Pane, menegaskan bahwa jalan poros Simpang Wahid–Tanjung Kuyo merupakan urat nadi perekonomian masyarakat setempat. Kerusakan jalan ini bukan hanya menghambat akses, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan warga yang bergantung pada jalur tersebut untuk aktivitas sehari-hari.
Warga menilai PT SLS, yang merupakan anak usaha PT Astra Agro Lestari Tbk, tidak menunjukkan kepedulian yang memadai terhadap kondisi infrastruktur yang mendukung kehidupan mereka. Aksi ini merupakan salah satu dari sekian banyak demonstrasi yang kerap terjadi di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit, di mana perusahaan sering kali dihadapkan pada tuntutan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Di sisi lain, sektor kelapa sawit tidak hanya menghadapi tuntutan dari masyarakat, tetapi juga tekanan untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca. Pada hari yang sama, inisiatif global yang diusung Inisiatif Target Berbasis Sains (SBTi) mendapatkan perhatian dari pelaku industri, termasuk TSE Group. Sektor kehutanan, pertanian, dan penggunaan lahan (FLAG) diketahui menyumbang sekitar 22 persen emisi gas rumah kaca di dunia, menjadikannya sebagai salah satu sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Dengan bergabung dalam SBTi, TSE Group berkomitmen untuk menetapkan target pengurangan emisi yang berbasis sains dan sesuai dengan bukti ilmiah, sebagai langkah menuju net zero.
- Inisiatif Ramah Lingkungan dalam Industri Kelapa Sawit Indonesia (22 Februari 2026)
- Petani Sawit Jambi Memanfaatkan Bisnis Karbon untuk Keberlanjutan Lingkungan (22 Februari 2026)
- Transformasi Limbah Sawit Menjadi Energi Bersih di Indonesia (2 Maret 2026)
- Inovasi Pengolahan Limbah Sawit Diperlukan di Tengah Masalah Lingkungan (11 Maret 2026)
Keikutsertaan perusahaan-perusahaan di sektor FLAG dalam SBTi merupakan upaya untuk memitigasi dampak negatif perubahan iklim yang semakin nyata. Melalui inisiatif ini, diharapkan perusahaan dapat lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya alam dan berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Di tengah tuntutan masyarakat akan infrastruktur yang lebih baik dan upaya perusahaan untuk mengurangi emisi, terdapat harapan bahwa kolaborasi antara masyarakat dan industri dapat menghasilkan solusi yang saling menguntungkan.
Dalam konteks ini, kedua isu yang muncul—tuntutan masyarakat untuk perbaikan infrastruktur dan upaya pengurangan emisi oleh perusahaan—merupakan bagian dari tantangan yang lebih besar yaitu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Diperlukan dialog yang konstruktif antara semua pihak agar tujuan tersebut dapat tercapai.
Sumber:
- Warga Tanjung Kuyo Geruduk PT SLS, Tuntut Perbaikan Jalan dan Sungai — Info Sawit (2025-03-17)
- Sektor Flag Dan Upaya Pengurangan Emisi Langkah Tse Group Menuju Net Zero — Kompas (2025-03-17)